Viral! Warga Laonti Rujuk Pasien di Laut Gelap Pakai Senter, LIRA Sultra Claster 45: Ini Darurat Kemanusiaan
- account_circle Olank Zakaria
- calendar_month Kam, 26 Feb 2026
- visibility 420
- comment 0 komentar

KONSEL | SUARAEMPATPILAR.com — Jeritan pilu warga Kecamatan Laonti akhirnya pecah ke ruang publik. Sebuah video yang beredar luas di media sosial memperlihatkan kondisi mencekam saat warga harus merujuk pasien ke Kota Kendari dalam kegelapan total, hanya bermodalkan senter di tengah laut pada malam hari.
Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) LSM LIRA Sulawesi Tenggara, Asran Doiyu selaku Gubernur LSM LIRA Claster 45 Sultra langsung bereaksi keras. Mereka menuding Pemerintah Kabupaten Konawe Selatan abai terhadap nasib warga di wilayah terpencil tersebut.
Peristiwa memilukan ini terjadi saat masyarakat Muslim tengah bersiap menyambut malam pertama bulan suci Ramadan. Di saat sebagian warga menata kebahagiaan, keluarga di Laonti justru berjuang melawan waktu demi menyelamatkan nyawa anggota keluarganya.
“Kalau Air Surut, Kami Hanya Bisa Pasrah”
Dalam rekaman yang viral di Facebook, warga menggambarkan kondisi ekstrem yang mereka alami setiap kali harus merujuk pasien darurat.
“Kalau malam begini, kami harus pakai senter. Gelap sekali. Kalau air surut atau cuaca buruk, kami tidak bisa berangkat walaupun pasien sudah sekarat,” ujar seorang warga dengan suara bergetar.
Tak jarang, pasien meninggal dunia di tengah perjalanan laut karena keterlambatan penanganan medis. Jalur darat yang layak belum tersedia, listrik terbatas, dan fasilitas kesehatan rujukan jauh dari jangkauan cepat.
Situasi ini membuat warga merasa hidup dalam kondisi “terisolasi secara sistemik” seolah berada di luar radar pembangunan.
LIRA Sultra: Ini Bukan Keluhan, Ini Alarm Keras
DPW LIRA Sultra menyebut kondisi Laonti sebagai kegagalan serius pemenuhan hak dasar warga negara. Organisasi tersebut mendesak pemerintah daerah, provinsi, hingga pusat untuk turun tangan segera.
“Ini bukan sekadar keluhan masyarakat. Ini alarm keras soal nyawa manusia. Bagaimana mungkin di era sekarang masih ada warga yang harus mempertaruhkan hidup di tengah laut gelap hanya untuk menuju rumah sakit?” tegas Asran Doiyu.
LIRA juga menilai ketimpangan pembangunan antara wilayah perkotaan dan kawasan pesisir terpencil semakin nyata dan tidak bisa lagi ditutup-tutupi.
“Sejak Konsel Berdiri, Kami Begini Terus”
Warga Laonti mengaku kondisi ini bukan masalah baru. Mereka telah bertahun-tahun menghadapi kesulitan serupa tanpa solusi permanen.
“Sejak Konawe Selatan berdiri sendiri, Laonti begini terus. Sampai kapan kami merasakan jalan yang layak dan listrik?” keluh warga dalam video tersebut.
Seruan bantuan bahkan ditujukan langsung kepada Bupati Konawe Selatan, Gubernur Sulawesi Tenggara, DPRD, DPD RI, hingga Presiden Republik Indonesia.
Kasus Laonti kembali membuka fakta pahit tentang wilayah pesisir dan kepulauan yang masih tertinggal dalam akses layanan dasar. Di tengah narasi pembangunan dan pertumbuhan ekonomi daerah, masih ada masyarakat yang harus berjibaku dengan kegelapan, cuaca ekstrem, dan keterbatasan transportasi demi bertahan hidup.
Jika tidak segera ditangani, kondisi ini dikhawatirkan akan terus memakan korban jiwa tragedi yang seharusnya bisa dicegah dengan infrastruktur dan layanan darurat yang memadai.
Laporan: Redaksi
- Penulis: Olank Zakaria

Saat ini belum ada komentar