Desa Wisata Namu Go Internasional, GCIP 2026 Hadirkan Mahasiswa dari 9 Negara
- account_circle Olank Zakaria
- calendar_month Jum, 24 Apr 2026
- visibility 25
- comment 0 komentar

KONAWE SELATAN | SUARAEMPATPILAR.com – Desa Wisata Namu kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu ikon baru pariwisata berbasis kearifan lokal di Sulawesi Tenggara. Kali ini, desa tersebut mencatat capaian penting melalui penyelenggaraan Global Cultural Immersion Program (GCIP) 2026, sebuah inisiatif kolaboratif bersama Universitas Muhammadiyah Kendari (UMK) yang menggabungkan pendidikan, budaya, dan pengalaman wisata autentik dalam satu rangkaian kegiatan terpadu.
Program yang berlangsung pada 22–23 April 2026 itu menghadirkan mahasiswa internasional dari sembilan negara Tanzania, Pakistan, Rwanda, China, Thailand, Palestina, Kenya, Madagaskar, dan Filipina. Kehadiran mereka bukan sekadar sebagai peserta akademik, melainkan sebagai bagian dari konsep living life program, di mana para peserta benar-benar menyatu dengan kehidupan masyarakat desa.
Selama dua hari pelaksanaan, para mahasiswa merasakan langsung dinamika kehidupan lokal, mulai dari interaksi sosial, pengenalan tradisi, hingga praktik keseharian masyarakat. Pengalaman ini diperkaya dengan kegiatan berbasis lingkungan seperti try dive dan pelestarian terumbu karang, yang menjadi bagian dari pendekatan edu-wisata berkelanjutan.
Direktur Direktorat Kerjasama dan Internasionalisasi UMK, Titin Rahmiatin Rahim, menilai GCIP 2026 sebagai model pembelajaran lintas budaya yang efektif dan berdampak. Menurutnya, pendekatan sederhana yang mengedepankan pengalaman langsung justru mampu menghadirkan pemahaman yang lebih mendalam bagi peserta internasional.
“Mereka tidak hanya belajar secara teori, tetapi merasakan langsung kehidupan masyarakat desa yang ramah, memahami nilai-nilai lokal, serta terlibat dalam upaya pelestarian lingkungan. Ini menjadi pengalaman pertama yang sangat berkesan bagi mereka,” ujarnya.
Ia menambahkan, program ini sekaligus memperkenalkan praktik konservasi berbasis masyarakat yang selama ini menjadi kekuatan desa, khususnya dalam menjaga ekosistem laut dan lingkungan sekitar.
Di sisi lain, Ketua Pengelola Desa Wisata Namu, Ahmad Nizar, melihat GCIP 2026 sebagai momentum strategis untuk mengangkat desa ke level yang lebih tinggi dalam peta pariwisata internasional. Menurutnya, kegiatan ini bukan hanya sebuah event, melainkan tahap awal pengembangan paket wisata global yang tengah disiapkan secara serius.
“Kami tidak sekadar menyelenggarakan kegiatan, tetapi sedang membangun fondasi paket wisata internasional yang menawarkan pengalaman komprehensif mulai dari budaya, kehidupan sosial, hingga edukasi lingkungan,” jelasnya.
Paket wisata yang dirancang ke depan akan mengintegrasikan berbagai aspek, termasuk interaksi budaya, pembelajaran bahasa lokal, serta keterlibatan aktif wisatawan dalam program konservasi laut, darat, dan hutan. Konsep ini diharapkan mampu memberikan pengalaman yang tidak hanya rekreatif, tetapi juga edukatif dan berkelanjutan.
Keberhasilan GCIP 2026 turut membuka peluang besar bagi pengembangan agenda internasional berkelanjutan di Sulawesi Tenggara. UMK melalui Direktorat Kerjasama dan Internasionalisasi bahkan telah merencanakan program ini menjadi agenda tahunan, dengan Desa Wisata Namu sebagai tuan rumah tetap.
Jika rencana ini terealisasi secara konsisten, Desa Wisata Namu berpotensi menjadi pelopor desa wisata pertama di Sulawesi Tenggara yang memiliki event internasional berkelanjutan sekaligus memperkuat posisi daerah sebagai destinasi edu-wisata unggulan di tingkat global.
Laporan: Redaksi
- Penulis: Olank Zakaria

Saat ini belum ada komentar