Oposisi Israel Sebut Gencatan Senjata Iran “Bencana Politik”, Netanyahu Diserang
- account_circle Olank Zakaria
- calendar_month Rab, 8 Apr 2026
- visibility 39
- comment 0 komentar

TEL AVIV | SUARAEMPATPILAR.com – Gelombang kritik keras mengguncang pemerintahan Israel. Gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran justru memicu badai politik di dalam negeri, dengan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menjadi sasaran serangan brutal dari kubu oposisi.
Langkah penghentian sementara serangan selama dua minggu yang diprakarsai Donald Trump dinilai bukan sebagai kemenangan diplomasi melainkan simbol kegagalan strategis Israel di medan perang.
Oposisi: Ini Bencana Politik Terbesar Israel
Pemimpin oposisi utama Israel, Yair Lapid, tanpa tedeng aling-aling melontarkan kritik tajam.
“Tidak pernah ada bencana politik seperti ini sepanjang sejarah kita. Israel bahkan tidak dilibatkan dalam keputusan paling penting terkait keamanan nasionalnya sendiri.”
Lapid menegaskan bahwa militer Israel telah menjalankan tugasnya, namun kegagalan justru terjadi di level kepemimpinan politik.
“Netanyahu gagal secara politik, gagal secara strategis, dan tidak mencapai satu pun tujuan perang yang dia tetapkan sendiri.”
Janji Hancurkan Iran, Berujung Gencatan Senjata
Sebelumnya, Netanyahu menargetkan penghancuran program nuklir Iran, melemahkan kekuatan militer Teheran, hingga menggulingkan pengaruh regional Iran.
Namun realitas di lapangan justru berbalik arah. Alih-alih kemenangan, Israel kini dihadapkan pada gencatan senjata yang dianggap memberi ruang bagi Iran untuk bangkit kembali.
Ketua Partai Demokrat Israel, Yair Golan, bahkan menyebut kondisi ini sebagai kegagalan paling parah dalam sejarah modern Israel.
“Dia menjanjikan kemenangan bersejarah. Yang kita dapat justru kegagalan strategis yang membahayakan masa depan keamanan Israel.”
Israel Ditinggal dalam Keputusan Besar?
Salah satu poin paling sensitif dalam kritik oposisi adalah dugaan bahwa Israel tidak dilibatkan secara penuh dalam keputusan gencatan senjata antara AS dan Iran.
Jika benar, ini menjadi pukulan telak bagi posisi Israel sebagai sekutu utama Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Meski demikian, kantor Netanyahu menyatakan Israel tetap mendukung keputusan AS. Namun ada satu catatan penting gencatan senjata tidak berlaku untuk Lebanon, di mana konflik dengan kelompok Hizbullah masih berlangsung.
Peringatan Keras: Iran Bisa Bangkit Lebih Kuat
Tokoh oposisi lainnya, Avigdor Liberman, memperingatkan bahwa kesepakatan ini justru memberi waktu bagi Iran untuk menyusun kekuatan baru.
“Kesepakatan tanpa penghentian program nuklir dan rudal Iran hanya akan membuat kita menghadapi perang berikutnya dalam kondisi lebih buruk.”
Pernyataan ini mempertegas kekhawatiran bahwa gencatan senjata bukan akhir konflik—melainkan jeda menuju eskalasi yang lebih besar.
Israel di Persimpangan: Diplomasi atau Kegagalan?
Kini Israel berada di titik kritis. Di satu sisi, dunia melihat peluang perdamaian. Namun di sisi lain, tekanan politik dalam negeri semakin memanas.
Apakah ini langkah strategis menuju stabilitas?
Atau justru bukti bahwa Israel kehilangan kendali dalam konflik regional?
Yang jelas, satu hal tidak bisa dibantah Gencatan senjata ini bukan hanya soal Iran dan Amerika, tapi juga tentang krisis kepemimpinan di dalam Israel sendiri.
Laporan: Redaksi
- Penulis: Olank Zakaria

Saat ini belum ada komentar