1.512 Dapur Program Makan Bergizi Gratis di Jawa Dihentikan, Pemerintah Lakukan Evaluasi Besar
- account_circle Olank Zakaria
- calendar_month Sab, 14 Mar 2026
- visibility 77
- comment 0 komentar

JAKARTA | SUARAEMPAT PILAR.com – Pemerintah melalui Badan Gizi Nasional mengambil langkah drastis dengan menghentikan sementara operasional 1.512 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Pulau Jawa. Kebijakan ini dilakukan sebagai bagian dari evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang belakangan menjadi sorotan publik.
Langkah tersebut diambil untuk memastikan seluruh fasilitas penyedia makanan dalam program nasional tersebut benar-benar memenuhi standar kesehatan, sanitasi, serta tata kelola operasional sebelum kembali melayani penerima manfaat, terutama anak-anak sekolah.
Direktur Pemantauan dan Pengawasan Wilayah II BGN, Albertus Dony Dewantoro, menjelaskan bahwa penghentian sementara ini dilakukan terhadap SPPG yang tersebar di sejumlah provinsi di Pulau Jawa.
Rinciannya meliputi:
- DKI Jakarta: 50 unit
- Banten: 62 unit
- Jawa Barat: 350 unit
- Jawa Tengah: 54 unit
- Jawa Timur: 788 unit
- Daerah Istimewa Yogyakarta: 208 unit
“Operasional SPPG yang dihentikan sementara akan dibuka kembali secara bertahap setelah seluruh persyaratan operasional dan standar yang ditetapkan telah dipenuhi,” ujar Dony.
Ia menegaskan, pihaknya akan melakukan pendampingan dan verifikasi langsung terhadap unit-unit yang terdampak agar dapat segera memenuhi standar yang ditentukan dan kembali beroperasi.
Langkah evaluasi ini juga dilakukan di tengah menurunnya tingkat kepercayaan sebagian masyarakat terhadap program MBG setelah muncul beberapa insiden di lapangan.
Peneliti komunikasi perubahan perilaku dari Yayasan Cipta, Risang Rimbatmaja, menilai terdapat perbedaan cara pandang antara pengelola program dan masyarakat.
Menurutnya, meskipun secara statistik insiden dalam program MBG sangat kecil dibandingkan total porsi makanan yang didistribusikan, masyarakat memiliki standar ekspektasi yang berbeda.
“Secara statistik mungkin hanya 0,00 sekian persen dari total porsi yang dibagikan. Tetapi bagi masyarakat, satu atau dua insiden saja sudah dianggap sangat besar,” jelas Risang.
Ia menyebut masyarakat tidak menilai program berdasarkan logika proporsi, melainkan berdasarkan logika ekspektasi, sehingga setiap insiden mudah menjadi isu besar di ruang publik.
Selain persoalan higienitas makanan, Risang menilai tantangan besar program MBG justru terletak pada rendahnya literasi gizi masyarakat Indonesia.
Berdasarkan pengamatannya di berbagai kota besar, pemahaman masyarakat tentang konsep gizi seimbang masih sangat rendah.
“Masyarakat sering kali memprotes jumlah makanan atau jenis lauknya. Padahal yang terpenting adalah keseimbangan antara karbohidrat, lauk pauk, sayur, dan buah,” ujarnya.
Konsep gizi seimbang sendiri memiliki dua pilar utama, yaitu keberagaman menu dan porsi yang proporsional sesuai kebutuhan tubuh.
Risang juga memaparkan kondisi yang cukup mengkhawatirkan terkait pola makan masyarakat Indonesia saat ini.
Data menunjukkan hanya sekitar 6 persen masyarakat yang mengonsumsi sayur dan buah secara cukup, sementara sekitar 94 persen lainnya masih kekurangan asupan tersebut.
“Orang Indonesia itu makannya kacau. Yang cukup makan sayur dan buah hanya sekitar 6 persen,” tegasnya.
Situasi ini semakin diperparah oleh meningkatnya konsumsi Ultra Processed Food, yakni makanan olahan pabrik yang tinggi gula, garam, dan lemak.
Jika tidak dikendalikan, pola makan tersebut berpotensi meningkatkan kasus Penyakit Tidak Menular (PTM) seperti kanker, stroke, dan diabetes pada kelompok usia produktif dalam beberapa dekade ke depan.
Karena itu, Risang menilai Program Makan Bergizi Gratis seharusnya tidak hanya dipandang sebagai program pembagian makanan, tetapi juga sebagai alat edukasi gizi nasional yang dapat mengubah perilaku makan masyarakat.
Ia mencontohkan keberhasilan sistem makan siang sekolah di Jepang yang mampu membentuk budaya makan sehat sejak usia dini.
“MBG sangat strategis untuk menciptakan perubahan perilaku masyarakat Indonesia menuju pola makan yang lebih sehat,” pungkasnya.
Laporan: Redaksi
- Penulis: Olank Zakaria

Saat ini belum ada komentar