Harmoni HUT Sultra 2026 Resmi Ditutup Wagub Hugua: Filosofi Harmoni untuk Generasi Emas
- account_circle Olank Zakaria
- calendar_month Sel, 28 Apr 2026
- comment 0 komentar
KENDARI | SUARAEMPATPILAR.com – Setelah berlangsung meriah selama beberapa hari, rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-62 Provinsi Sulawesi Tenggara resmi ditutup. Wakil Gubernur Sultra, Ir. Hugua, secara langsung memimpin upacara penutupan Harmoni Sultra 2026 di kawasan Tugu MTQ Kendari, Senin (27/4/2026).
Penutupan kali ini terasa istimewa karena Wagub Hugua menyampaikan pidato yang tidak hanya menyentuh, tetapi juga menggugah kesadaran kolektif. Baginya, harmoni bukanlah slogan kosong, melainkan getaran jiwa yang menyatukan teologi, spiritualitas, dan sains.
Alhamdulillah, Semua Berjalan Baik: Bukti Kebersamaan yang Nyata

Dengan wajah sumringah dan penuh syukur, Hugua membuka sambutannya.
“Alhamdulillah, seluruh rangkaian kegiatan dari persiapan hingga penutupan dapat berjalan dengan baik. Ini adalah bukti bahwa kita mampu membangun kebersamaan dalam satu frekuensi, yaitu harmoni,” ujarnya disambut tepuk tangan para undangan dan masyarakat yang hadir.
Harmoni Bukan Slogan: Filosofi yang Menyatukan Langit dan Bumi
Di sinilah letak keistimewaan pidato Wagub Hugua. Ia tidak sekadar mengucapkan kata “harmoni” sebagai basa-basi. Ia mengupasnya secara mendalam dari berbagai dimensi:
- Dimensi Spiritual: Harmoni adalah “getaran jiwa” yang memancar dari setiap manusia. Ia adalah energi halus yang menyelaraskan hati, pikiran, dan tindakan.
- Dimensi Sains: Dalam dunia fisika, harmoni tercermin dari keteraturan pergerakan partikel subatom seperti proton, neutron, dan elektron. Tanpa harmoni, alam semesta akan kacau.
- Dimensi Teologi & Sosial: Ketika ketiga dimensi ini menyatu, lahirlah generasi Sultra yang tidak hanya hebat di tingkat lokal, tetapi mampu bersaing di panggung global.
“Kalau kita pahami, harmoni ini menyatukan aspek teologi, spiritual, dan ilmu pengetahuan. Dari sinilah akan lahir generasi Sultra yang tidak hanya hebat di lokal, tapi juga mampu bersaing di tingkat global,” tegasnya.
Generasi Muda Mendominasi: Tanda Sultra Bergerak Maju
Salah satu kebanggaan terbesar Wagub Hugua selama Harmoni Sultra 2026 adalah dominasi peran generasi muda. Bukan para pejabat atau tokoh senior yang paling banyak tampil, melainkan anak-anak muda, pelajar, dan generasi Z.

“Yang tampil anak-anak muda, bukan hanya senior. Ini luar biasa. Mereka menunjukkan kreativitas dan keberanian. Ini tanda Sultra sedang bergerak maju,” katanya dengan penuh semangat.
Ia menilai bahwa energi muda ini adalah modal utama Sultra untuk melompat lebih jauh di masa depan.
Pentahelix: Kolaborasi Lintas Sektor yang Jadi Fondasi Baru
Wagub Hugua juga menyoroti kuatnya kolaborasi berbagai pihak. Tidak hanya pemerintah daerah dan Forkopimda, tetapi juga pelaku usaha, Bank Indonesia, lembaga pendidikan, hingga komunitas masyarakat.
Inilah yang disebut sebagai konsep pentahelix — sinergi lima pilar: pemerintah, swasta, akademisi, masyarakat, dan media. Kolaborasi ini dinilainya sebagai fondasi penting dalam mendorong percepatan pembangunan daerah ke depan.

Lomba Bukan Sekadar Menang, Tapi Belajar Naik Level Bersama
Selama Harmoni Sultra 2026, berbagai lomba dan kompetisi digelar. Namun menurut Hugua, makna di balik lomba jauh lebih dalam dari sekadar siapa juaranya.
“Setiap perlombaan itu ada dua makna: kompetisi dan kerja sama. Dari situ kita naik level bersama,” jelasnya.
Ia mengajak seluruh peserta untuk tidak berkecil hati jika belum menang, karena proses belajar dan kebersamaan adalah hadiah sejati.
Inspirasi dari Raim Laode: Orang Hebat Bisa Lahir dari Desa Kecil
Dalam pidatonya, Hugua menyentil nama Raim Laode, musisi asal Sultra yang kini namanya melambung di panggung nasional hingga internasional. Bagi Hugua, Raim adalah bukti nyata bahwa talenta besar tidak ditentukan oleh latar belakang kota besar.
“Orang hebat itu bisa lahir dari desa kecil. Yang penting punya nyali dan cara pandang besar. Saya yakin dari harmoni ini akan lahir banyak talenta baru,” ungkapnya.

Pesan ini khususnya ditujukan kepada generasi muda Sultra agar tidak pernah malu dengan asal-usulnya. Yang menentukan kesuksesan adalah keberanian dan tekad, bukan tempat lahir.
Kearifan Lokal: Kalosara hingga Muna Adalah Fondasi Karakter
Lebih jauh, Hugua menekankan pentingnya menjaga harmoni melalui nilai-nilai budaya lokal. Ia menyebut secara spesifik beberapa warisan leluhur yang harus terus dirawat:
- Kalosara (filosofi musyawarah masyarakat Tolaki)
- Nilai-nilai Buton (kearifan Kesultanan Buton)
- Nilai Moronene
- Nilai Muna
“Kalau kita pegang nilai-nilai itu, saya yakin Sultra akan semakin keren ke depan,” ujarnya optimistis.
Menurutnya, di tengah arus globalisasi dan disrupsi digital, justru kearifan lokal lah yang akan menjadi jati diri dan daya saing daerah.
Terima Kasih untuk Semua: Harmoni Adalah Kerja Bersama

Di akhir sambutannya, Wagub Hugua menyampaikan rasa terima kasih yang tulus kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi:
- Panitia pelaksana yang bekerja tanpa lelah
- Pemerintah daerah dan Forkopimda
- Tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh agama
- Pelajar dan generasi muda
- Seluruh masyarakat Sulawesi Tenggara
“Ini adalah kerja bersama. Terima kasih atas dedikasi dan partisipasi semua pihak dalam menyukseskan kegiatan ini,” katanya.
Resmi Ditutup, Semangat Harmoni Terus Berlanjut
Dengan mengucapkan “Alhamdulillahi Rabbil Alamin”, Wagub Ir. Hugua secara resmi menutup Harmoni Sultra 2026. Namun, ia berpesan bahwa semangat harmoni tidak berhenti di sini.
“Semoga semangat kebersamaan dan harmoni terus terjaga dalam membangun Sulawesi Tenggara yang maju, aman, sejahtera, dan religius,” pungkasnya.
Lapangan Tugu MTQ Kendari yang selama beberapa hari menjadi pusat kegembiraan kini perlahan mulai sepi. Tapi di hati setiap warga Sultra, api harmoni itu tetap menyala. Dan dari sanalah, peradaban baru akan lahir.
Selamat ulang tahun ke-62, Sulawesi Tenggara. Teruslah berharmoni, teruslah melompat ke depan!
Laporan; Redaksi
- Penulis: Olank Zakaria

Saat ini belum ada komentar