62 Tahun Sultra: Gubernur ASR Tegaskan Harmoni Fondasi Kesejahteraan
- account_circle La Ode Zailudin
- calendar_month Sen, 27 Apr 2026
- visibility 141
- comment 0 komentar

KENDARI | SUARAEMPATPILAR.com – Mentari pagi menyinari Lapangan Tugu Eks MTQ Kendari, Senin (27/4/2026). Ratusan peserta upacara berdiri tegap. Warna-warni seragam aparatur sipil, TNI, Polri, hingga pakaian adat dari berbagai suku di Sulawesi Tenggara (Sultra) berbaur menjadi satu. Inilah potret kecil dari sebuah negeri yang genap berusia 62 tahun.
Bukan sekadar barisan dan penghormatan. Upacara peringatan HUT ke-62 Provinsi Sultra kali ini terasa istimewa. Pasalnya, momen ini dirangkaikan dengan Hari Otonomi Daerah ke-30 serta Semarak Dirgantara dalam rangka HUT ke-80 TNI Angkatan Udara. Tiga peristiwa besar dalam satu napas, satu tekad: memperkuat Sultra dari akar budaya hingga angkasa.

62 Bukan Sekadar Angka, Tapi Perjalanan Panjang Perjuangan
Sejak berdiri pada tahun 1964, Sulawesi Tenggara telah melalui pasang surut pembangunan. Dari kepemimpinan para gubernur pertama hingga saat ini, satu hal yang tak pernah berubah: semangat untuk memajukan Bumi Anoa.
Gubernur Sulawesi Tenggara, Mayjen TNI (Purn) Andi Sumangerukka, yang akrab disapa ASR, dalam sambutannya mengingatkan bahwa usia 62 tahun bukanlah sekadar angka. Ia adalah penanda perjalanan panjang yang diwarnai perjuangan dan pengorbanan para pendahulu.
“Provinsi Sulawesi Tenggara merupakan hasil perjuangan dan pengorbanan para pendahulu. Sudah sepatutnya kita memberikan penghargaan setinggi-tingginya atas jasa-jasa mereka,” ujar ASR dengan suara bergetar penuh haru.

Keberagaman Bukan untuk Dipertentangkan, Tapi Diharmonikan
Salah satu poin paling mengemuka dalam pidato Gubernur ASR adalah soal keberagaman. Sultra, seperti halnya Indonesia, adalah miniatur keberagaman. Berbagai suku (Tolaki, Buton, Muna, Bugis, Bajo, dan lainnya), agama, budaya, dan latar belakang sosial hidup berdampingan.
“Keberagaman bukan untuk dipertentangkan, tetapi merupakan kekuatan yang apabila diharmonisasikan dengan baik akan menjadi modal besar untuk mendorong kemajuan daerah,” tegasnya.
Pernyataan ini bukan retorika belaka. Di tengah ancaman polarisasi di beberapa daerah di Indonesia, Sultra justru menunjukkan wajah lain: kerukunan yang tumbuh dari kesadaran bersama.

Momentum Bukan Seremonial, Tapi Penguatan Kemandirian Daerah
Gubernur ASR dengan tegas menyatakan bahwa peringatan HUT ke-62 tidak boleh berhenti sebagai kegiatan seremonial tahunan. Harus ada lompatan makna.
“Momentum ini harus kita manfaatkan untuk memperkuat sinergi, meningkatkan integritas, serta mendorong pembangunan yang berkeadilan, inklusif, dan berkelanjutan,” ujarnya.
Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus menjaga kerukunan, persatuan, dan kesatuan dalam keberagaman. Juga meningkatkan integritas dan kinerja dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab masing-masing.

“Mari kita terus bersinergi dan berkolaborasi secara efektif, efisien, dan produktif dalam mengelola potensi daerah demi kesejahteraan masyarakat Sulawesi Tenggara,” tambahnya.
Apresiasi untuk Semua Pihak: Dari Pusat hingga Masyarakat Kecil
Dalam suasana yang penuh haru, Gubernur ASR juga menyampaikan rasa terima kasih yang tidak terbatas. Ia menyebut satu per satu pihak yang telah berkontribusi:
- Pemerintah pusat, DPR RI, dan DPD RI
- DPRD Provinsi Sultra dan DPRD kabupaten/kota
- Seluruh bupati dan wali kota se-Sultra
- TNI dan Polri
- Lembaga dan organisasi masyarakat
- Sektor swasta, akademisi, media
- Tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh adat
- Tokoh pemuda, tokoh perempuan
- Seluruh masyarakat Sulawesi Tenggara
“Tanpa kerja sama semua pihak, tidak ada pembangunan yang berarti,” ujarnya.

Yang Membuat Istimewa: Atraksi Terjun Payung dari TNI AU
Tak hanya khidmat, upacara kali juga diselingi momen spektakuler. Dalam rangka Semarak Dirgantara HUT ke-80 TNI AU, para tamu undangan dan masyarakat yang memadati sekitar lapangan disuguhi atraksi terjun payung yang dilakukan oleh anggota TNI AU.
Para penerjun tepat mendarat di area lapangan, membawa bendera Merah Putih dan bendera Sultra. Puluhan kamera ponsel terangkat. Anak-anak bersorak gembira. Momen ini membuat upacara tidak terasa kaku, tetapi penuh energi dan kebanggaan.
Penanaman Pohon dan Pemberian Bibit: Warisan untuk Masa Depan
Tak berhenti di situ, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan penanaman pohon secara simbolis oleh Gubernur bersama Forkopimda dan prajurit TNI AU. Juga pembagian bibit siap tanam kepada masyarakat.

Pesan di balik kegiatan ini jelas: pembangunan tidak hanya untuk generasi sekarang, tetapi juga untuk anak cucu. Sultra tidak hanya ingin maju secara ekonomi, tetapi juga hijau dan lestari secara lingkungan.
Penutup: 62 Tahun Sultra, Terus Melaju Harmoni Menuju Sejahtera
Usia 62 tahun bagi sebuah provinsi bukanlah muda, tetapi juga bukan tua. Ia adalah usia matang, usia di mana sebuah daerah tahu persis potensi dan tantangannya.
Dengan harmoni sebagai fondasi, keberagaman sebagai kekuatan, dan kolaborasi sebagai metode, Sulawesi Tenggara di bawah kepemimpinan Gubernur Andi Sumangerukka optimis melangkah ke dekade berikutnya.
Dari Lapangan Tugu Eks MTQ Kendari, Sultra berbisik: Kami siap melaju, bersama harmoni, menuju sejahtera.
Laporan: Redaksi
- Penulis: La Ode Zailudin

Saat ini belum ada komentar