Hizbullah vs Israel Makin Membabi Buta: Beirut Digempur, 294 Tewas dalam Sepekan
- account_circle Olank Zakaria
- calendar_month Ming, 8 Mar 2026
- visibility 86
- comment 0 komentar
BEIRUT | SUARAEMPATPILAR.com – Konflik di Timur Tengah kembali memanas setelah bentrok antara kelompok Hizbullah Lebanon dan militer Israel meningkat drastis dalam beberapa hari terakhir. Eskalasi ini menjadi dampak meluas dari perang regional yang dipicu serangan besar-besaran Iran terhadap Israel dan Amerika Serikat sejak pekan lalu .
Hizbullah mengklaim berhasil melayangkan serangan roket bertubi-tubi ke konsentrasi kendaraan militer Israel di kota Markaba, Lebanon selatan. Serangan ini dilancarkan hingga tiga kali gelombang di tengah pertempuran sengit di sepanjang garis perbatasan kedua negara.
Markaba sendiri menjadi titik panas dalam beberapa waktu terakhir. Sebelumnya, serangan Israel di desa tersebut pada Jumat (6/3) dilaporkan menewaskan dua petinggi Hizbullah. Media Saudi Al-Arabiya mengklaim serangan itu menyasar markas regional Hizbullah . Militer Israel membenarkan pihaknya mengidentifikasi sejumlah milisi memasuki struktur militer Hizbullah di Markaba dan langsung membangun gedung tersebut .
“Selama upaya infiltrasi pasukan infanteri musuh ke wilayah Lebanon” di dekat desa perbatasan Markaba, para pejuang Hizbullah membidik pasukan tersebut “dengan peluru artileri,” demikian pernyataan kelompok itu beberapa waktu lalu .
Beirut Selatan Luluh Lantak
Di perkembangan terkini, situasi kian mencekam setelah serangan udara besar-besaran Israel menghantam kawasan Burj al-Barajneh di pinggiran selatan Beirut. Wilayah ini dikenal sebagai basis kuat Hizbullah. Kantor Berita Nasional Lebanon (NNA) mengonfirmasi pesawat tempur Israel meluncurkan serangan dahsyat dengan menembakkan dua rudal ke area tersebut .
Serangan ini merupakan bagian dari rangkaian bombardir Israel ke pinggiran selatan Beirut. Militer Israel sebelumnya memperingatkan ribuan warga untuk mengevakuasi wilayah tersebut sebelum gempuran dimulai, dengan alasan operasi menargetkan lokasi yang terkait dengan Hizbullah.
Namun, NNA melaporkan bahwa pemboman Israel juga menghantam fasilitas sipil dan kawasan permukiman. Situasi semakin kacau dengan kepanikan massal warga yang berusaha menyelamatkan diri.
Peringatan Evakuasi Dua Arah
Dalam perkembangan terbaru, Hizbullah mengeluarkan peringatan mengejutkan kepada warga Israel di pemukiman Kiryat Shmona dan Nahariya di Israel utara. “Peringatan: Semua penduduk Kiryat Shmona dan Nahariya diminta segera mengungsi dan menuju ke selatan,” demikian pernyataan Hizbullah di Telegram, Sabtu (7/3) .
Peringatan ini muncul di tengah gencarnya perintah evakuasi yang justru dikeluarkan militer Israel untuk penduduk di wilayah Lebanon . Situasi ini menciptakan krisis kemanusiaan yang semakin kompleks di kedua sisi perbatasan.
Korban Jiwa Terus Berjatuhan
Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan jumlah korban tewas akibat serangan Israel di Lebanon sejak Senin hingga Sabtu sore mencapai 294 orang, dengan 1.023 lainnya terluka . Eskalasi ini telah mengungsikan ratusan ribu orang dan menyebabkan kehancuran luas pada bangunan tempat tinggal, rumah ibadah, serta infrastruktur publik .
Sebelumnya, Lebanon mencatat lebih dari 4.000 orang tewas dan sekitar 17.000 terluka selama ofensif Israel yang dimulai Oktober 2023 dan meningkat menjadi perang skala penuh pada September 2024 . Meskipun ada kesepakatan gencatan senjata dengan Hizbullah sejak November 2024, Israel terus melanjutkan pelanggaran hampir setiap hari yang menewaskan dan melukai ratusan orang .
Terkoneksi dengan Perang Iran-AS
Eskalasi di Lebanon tidak bisa dilepaskan dari konflik yang lebih besar. Israel dan Amerika Serikat sejak Sabtu (1/3) melanjutkan serangan militer besar terhadap Iran. Teheran kemudian membalas dengan serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel serta sejumlah negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer AS.
Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, tewas dalam gempuran pasukan Israel dan AS pekan lalu, memicu gelombang serangan balasan dari kelompok-kelompok proksi Iran termasuk Hizbullah .
Israel sendiri melancarkan serangan baru ke Iran seiring konflik yang memasuki hari keenam . Sementara itu, AS dikabarkan menenggelamkan kapal perang Iran di Samudra Hindia, yang memicu ancaman balasan dari Teheran .
Tekanan terhadap Hizbullah
Di tengah gempuran militer, Hizbullah menghadapi tekanan dari berbagai sisi. Pemerintah Lebanon di bawah Perdana Menteri Nawaf Salam menyatakan aktivitas militer Hizbullah adalah ilegal dan terlarang, memerintahkan tentara Lebanon untuk mencegah tembakan dari wilayah Lebanon ke arah Israel .
Para pejabat Israel mengatakan operasi militer agresif terhadap Hizbullah memberikan tekanan signifikan pada kelompok itu di kalangan basis Syiah-nya. Pendukung Hizbullah, yang belum menerima kompensasi dari pertempuran sebelumnya, kini harus menanggung kerusakan akibat bentrokan baru sementara dukungan finansial dari Iran mengering .
Pemimpin Hizbullah Naim Qassem dalam pidatonya menegaskan pihaknya akan menghadapi apa yang ia sebut sebagai rencana Israel untuk “pendudukan dan ekspansi.” “Bagi kami, ini adalah pertahanan eksistensial,” katanya .
Situasi WNI di Lebanon
Kementerian Luar Negeri RI menyatakan pemerintah belum merencanakan evakuasi warga negara Indonesia (WNI) di Lebanon. Plt Direktur Pelindungan WNI Kemlu RI Heni Hamidah mengatakan mayoritas dari 939 WNI di Lebanon adalah personel TNI yang bertugas sebagai pasukan penjaga perdamaian di bawah PBB (UNIFIL) .
“Di Lebanon kita ada 939 WNI tapi sebagian besar merupakan personel TNI untuk UNIFIL. Dan sampai saat ini belum ada rencana untuk evakuasi,” kata Heni .
Namun, perwakilan Indonesia di Lebanon terus memantau kondisi di lapangan dan mengupdate rencana kontingensi serta opsi evakuasi apabila diperlukan .
Dengan situasi yang semakin tidak menentu, dunia kini menanti langkah selanjutnya dari Israel, Hizbullah, dan Iran di tengah kekhawatiran konflik akan meluas ke kawasan yang lebih luas.
Laporan: Tim Redaksi
- Penulis: Olank Zakaria
- Sumber: AA

Saat ini belum ada komentar