Breaking News
light_mode
Trending Tags

BIROKRASI YANG LUKAI GURU, SAAT PROYEK MAHAL JADI TANDA TANGAN KEKUASAAN

  • account_circle Suara Empat Pilar
  • calendar_month Sab, 10 Jan 2026
  • comment 0 komentar

Oleh: Olank Zakaria

Tangisan seorang guru di Deli Serdang adalah derit panjang sistem yang sudah membusuk. Ini bukan sekadar kisah sedih. Ini adalah pembongkaran pengkhianatan negara terhadap konstitusinya sendiri. Dua puluh tahun mengabdi, lalu dibuang seperti sampah. Empat belas guru PPPK, kontraknya berakhir di air mata. Negara ternyata lebih setia pada proyek daripada pada pengabdi bangsa.

Birokrasi kita bukan hanya kejam, ia juga semakin kreatif dalam mempermalukan martabat intelektual.

Di Muna, sebuah surat dinas (No: 800/3984) menjadi bukti tertulis keserakahan negara yang tak punya malu. Para sarjana S1, guru dan tenaga kependidikan, dipaksa menandatangani “Surat Pernyataan Tanggung Jawab Mutlak (SPTJM)” untuk digaji NOL RUPIAH. Bahasanya telanjang: negara tak punya uang, kalian harus paham dan ikhlas. Ini bukan pengabdian, ini perbudakan modern berlabel “ikhtiar.” Gelar sarjana, tugas mencerdaskan bangsa, diinjak-injak menjadi barang yang bisa dibeli dengan harga “nol.”

Ironinya, status naik justru membuat nasib turun. Di Kolaka Timur, guru honorer berstaus pendidikan S1 yang dulu mendapat gaji Rp1,2 juta, setelah jadi PPPK Paruh Waktu malah dipangkas jadi Rp1 juta. “Lebih dihargai saat masih honorer,” itu teriakan pilu yang seharusnya membakar muka para birokrat dan politisi. Lebih parah lagi, upah ini disamaratakan dengan lulusan SMA bahkan SMP. Birokrasi kita menghapus nilai profesionalisme dan kompetensi, seolah mengajar sama sederhananya dengan menyapu halaman.

Sementara guru disuruh berpuasa dan berikhtiar, birokrasi dan kekuasaan sedang pesta pora dengan proyek prestisius bernama Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Inilah titik puncak kemunafikan kebijakan. Anggaran MBG yang digelontor sebesar Rp335 triliun itu bukan uang jatuh dari langit. 67%-nya (Rp223,6 triliun) dirampok dari dana pendidikan! Ditambah lagi dengan pemotongan dana kesehatan dan fungsi ekonomi. Artinya, untuk membiayai proyek yang digembar-gemborkan ini, negara dengan sadar dan terencana mengorbankan masa depan anak bangsa (pendidikan) dan kesehatan rakyatnya.

Logikanya terbalik: petugas dapur dan pencuci piring non-sarjana di program MBG digaji Rp2-3 juta, lebih tinggi dari guru sarjana yang digaji nol atau satu juta. Sekali lagi, tak ada yang salah menggaji pekerja dapur dengan layak. Yang salah adalah mental birokrasi dan elit politik yang lebih bangga membangun etalase proyek populis ketimbang membenahi fondasi bangsa.

MBG dalam praktiknya bukan sekadar program sosial, ia telah menjadi “proyek prestise” kekuasaan. Di tengah sekolah bobrok, guru miskin, dan fasilitas kesehatan yang memprihatinkan, proyek ini hadir sebagai pertunjukan kemewahan fiskal. Ia kosmetik kebijakan yang indah di brosur kampanye, tetapi pahit di realitas krisis yang sebenarnya.

Rakyat butuh fondasi, bukan kosmetik. Mereka butuh:

  1. Sekolah yang layak, bukan sekadar makanan di sekolah yang reyot.
  2. Guru yang sejahtera dan dihargai, bukan guru yang menangis karena dipecat atau menandatangani pernyataan gaji nol.
  3. Rumah sakit manusiawi, bukan sekadar janji makan bergizi sebelum jatuh sakit karena lingkungan buruk.
  4. Pekerjaan bermartabat, bukan perbudakan berlabel “PPPK-Paruh Waktu”.
  5. Perlindungan nyata saat bencana, bukan janji manis saat pemilihan.

Negara ini telah terbalik skala prioritasnya. Ia royal pada proyek yang visibel dan penuh puja-puji politik, tetapi pelit dan menghinakan pada garda terdepan pembangunan SDM: para guru. Ketika guru dipaksa “ikhlas” dengan gaji nol, sementara anggaran digelontor untuk proyek yang belum mendesak, yang terjadi bukan lagi kesalahan administratif, melainkan kerusakan moral birokrasi dan kepemimpinan bangsa.

Jika ini dibiarkan, yang kita petik bukan generasi emas 2045. Yang akan lahir adalah generasi yang dididik oleh para guru yang terluka, tumbuh dalam ketidakadilan, dan mewarisi mentalitas negara yang gemar mengorbankan yang lemah. Tangisan guru di Deli Serdang dan surat pernyataan gaji nol di Muna adalah alarm darurat. Jika alarm ini diabaikan, yang akan runtuh bukan hanya kesejahteraan guru, tapi seluruh masa depan bangsa.

Birokrasi dan kekuasaan, dengarlah jerit ini sebelum segalanya terlambat.

  • Penulis: Suara Empat Pilar

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Baru Dilantik, Ketua Ombudsman Hery Susanto Ditahan Kejagung photo_camera 1

    Baru Dilantik, Ketua Ombudsman Hery Susanto Ditahan Kejagung

    • calendar_month Kam, 16 Apr 2026
    • account_circle Olank Zakaria
    • visibility 143
    • 0Komentar

    JAKARTA | SUARAEMPATPILAR.com — Publik dikejutkan dengan penahanan Ketua Ombudsman Republik Indonesia, Hery Susanto oleh Kejaksaan Agung. Penahanan ini menjadi sorotan tajam lantaran terjadi hanya beberapa hari setelah Hery resmi dilantik. Pantauan di lokasi, Kamis (16/4/2026) sekitar pukul 11.19 WIB, Hery terlihat digiring keluar dari Gedung Jampidsus Kejaksaan Agung di Jakarta Selatan. Ia mengenakan rompi […]

  • BI Sultra Dukung Harmoni Sultra 2026, Dorong UMKM dan Zona Kuliner Aman di HUT ke-62 Sultra photo_camera 1

    BI Sultra Dukung Harmoni Sultra 2026, Dorong UMKM dan Zona Kuliner Aman di HUT ke-62 Sultra

    • calendar_month Sab, 25 Apr 2026
    • account_circle Olank Zakaria
    • visibility 145
    • 0Komentar

    KENDARI | SUARAEMPATPILAR.com – Dukungan terhadap perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-62 Provinsi Sulawesi Tenggara terus menguat dari berbagai pihak. Kali ini datang dari Bank Indonesia melalui Kepala Kantor Perwakilan BI Sultra, Edwin Permadi, yang menegaskan komitmen penuh dalam menyukseskan rangkaian kegiatan bertajuk Harmoni Sultra 2026. Pernyataan tersebut disampaikan Edwin saat memberikan sambutan dalam pembukaan […]

  • Aroma Busuk Dana Desa! KAS Ungkap Dugaan Pungli Paralegal, Inisial AD Disorot photo_camera 1

    Aroma Busuk Dana Desa! KAS Ungkap Dugaan Pungli Paralegal, Inisial AD Disorot

    • calendar_month Rab, 22 Apr 2026
    • account_circle La Ode Zailudin
    • visibility 116
    • 0Komentar

    KENDARI | SUARAEMPATPILAR.com – Konsorsium Aktivis Sulawesi Tenggara (KAS) melontarkan kritik keras terhadap praktik pengelolaan dana desa yang dinilai menyimpang dari prinsip transparansi. Ketua KAS, Abdul Haris, menegaskan bahwa mengabaikan Musyawarah Desa (Musdes) bukan sekadar pelanggaran prosedur, melainkan pintu masuk bagi penyalahgunaan anggaran yang berpotensi berujung pidana. “Musdes itu bukan formalitas. Itu forum tertinggi di […]

  • Pawai Budaya dan Lulo Massal HUT Sultra-62 di MTQ Kendari, Gubernur Andi Sumangerukka Ikut Lulo Bersama Warga photo_camera 1

    Pawai Budaya dan Lulo Massal HUT Sultra-62 di MTQ Kendari, Gubernur Andi Sumangerukka Ikut Lulo Bersama Warga

    • calendar_month Jum, 24 Apr 2026
    • account_circle Suara Empat Pilar
    • visibility 193
    • 0Komentar

    KENDARI | SUARAEMPATPILAR.com — Gelombang manusia membanjiri kawasan MTQ, Kota Kendari, Jumat (24/4/2026). Ribuan warga tumpah ruah menyaksikan Pawai Budaya dan lulo massal dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) ke-62 Provinsi Sulawesi Tenggara. Suasana berubah menjadi pesta rakyat penuh warna, irama, dan kebanggaan budaya. Mengusung tema “Produktif untuk Sultra Sejahtera”, pawai budaya ini memulai perjalanan […]

  • 62 Tahun Sultra: Gubernur ASR Tegaskan Harmoni Fondasi Kesejahteraan photo_camera 1

    62 Tahun Sultra: Gubernur ASR Tegaskan Harmoni Fondasi Kesejahteraan

    • calendar_month Sen, 27 Apr 2026
    • account_circle La Ode Zailudin
    • visibility 265
    • 0Komentar

    KENDARI | SUARAEMPATPILAR.com – Mentari pagi menyinari Lapangan Tugu Eks MTQ Kendari, Senin (27/4/2026). Ratusan peserta upacara berdiri tegap. Warna-warni seragam aparatur sipil, TNI, Polri, hingga pakaian adat dari berbagai suku di Sulawesi Tenggara (Sultra) berbaur menjadi satu. Inilah potret kecil dari sebuah negeri yang genap berusia 62 tahun. Bukan sekadar barisan dan penghormatan. Upacara […]

  • Harmoni Sultra 2026 Libatkan 6.000 Partisipan dan 24 Kegiatan, Gubernur Alihkan Rp5 Miliar untuk Wakatobi photo_camera 1

    Harmoni Sultra 2026 Libatkan 6.000 Partisipan dan 24 Kegiatan, Gubernur Alihkan Rp5 Miliar untuk Wakatobi

    • calendar_month Sab, 25 Apr 2026
    • account_circle Olank Zakaria
    • visibility 134
    • 0Komentar

    KENDARI | SUARAEMPATPILAR.com – Perayaan Harmoni Sultra 2026 dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) ke-62 Provinsi Sulawesi Tenggara berlangsung semarak dengan melibatkan ribuan partisipan dari berbagai elemen masyarakat. Tercatat, sebanyak 6.000 orang ambil bagian dalam 24 rangkaian kegiatan yang digelar hingga 27 April 2026. Ketua Panitia Harmoni Sultra 2026 yang juga Kepala Dinas Pariwisata Sultra, […]

expand_less