Breaking News
light_mode
Trending Tags

Reformasi Integritas Sistem Pemasyarakatan dalam Perspektif Hukum Pidana Modern: Analisis Normatif-Empiris Peredaran Narkotika di Lembaga Pemasyarakatan Sulawesi Tenggara

  • account_circle Muhammad Arafad
  • calendar_month Sab, 7 Feb 2026
  • comment 0 komentar

Oleh:

MUHAMMAD ARAFAD

Mahasiswa Pasca Sarjana Ilmu Hukum Universitas Sulawesi Tenggara


Peredaran gelap narkotika di dalam Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) menunjukkan adanya kesenjangan antara tujuan normatif sistem pemasyarakatan dengan realitas implementasi penegakan hukum. Penelitian ini bertujuan menganalisis fenomena tersebut melalui pendekatan normatif-empiris dengan menelaah regulasi hukum narkotika, teori tujuan pemidanaan modern, serta realitas sosial penegakan hukum di Sulawesi Tenggara. Hasil analisis menunjukkan bahwa permasalahan peredaran narkotika di Lapas tidak hanya disebabkan oleh kelemahan teknis pengawasan, tetapi juga berkaitan dengan integritas sistem penegakan hukum dan efektivitas kebijakan pemasyarakatan. Penelitian ini menegaskan urgensi reformasi struktural berbasis penguatan integritas kelembagaan, digitalisasi pengawasan, dan penguatan sistem akuntabilitas.

Sistem pemasyarakatan Indonesia secara filosofis dibangun atas prinsip pembinaan, rehabilitasi, dan reintegrasi sosial narapidana. Namun, realitas menunjukkan adanya paradoks serius, khususnya dalam konteks peredaran gelap narkotika di dalam Lembaga Pemasyarakatan (Lapas). Secara normatif, Lapas merupakan instrumen negara untuk memutus mata rantai kejahatan. Akan tetapi, dalam praktiknya, muncul indikasi bahwa sebagian Lapas justru berpotensi menjadi ruang konsolidasi jaringan kriminal, termasuk jaringan narkotika. Fenomena ini bukan sekadar kegagalan teknis pengawasan, tetapi mencerminkan persoalan struktural yang menyentuh aspek integritas kelembagaan, tata kelola pemasyarakatan serta efektivitas penegakan hukum secara menyeluruh.

Secara empiris, indikator kejahatan narkotika di Sulawesi Tenggara menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Kajian akademik mencatat prevalensi pengguna narkotika di Sulawesi Tenggara pernah mencapai sekitar 1,5% populasi atau sekitar 27.000 jiwa, yang menunjukkan tingkat kerentanan sosial terhadap peredaran narkotika.

Dalam konteks pemasyarakatan, data menunjukkan dominasi kasus narkotika dalam komposisi penghuni lapas. Di Lapas Kelas IIA Kendari, dari sekitar 715 warga binaan, sekitar 439 orang berasal dari kasus narkotika, yang berarti lebih dari separuh populasi penghuni terkait kejahatan narkotika.

Selain itu, data regional menunjukkan bahwa dari sekitar 3.172 narapidana di Lapas dan Rutan Sulawesi Tenggara, sekitar 1.290 merupakan kasus narkotika, yang memperlihatkan besarnya kontribusi tindak pidana narkotika terhadap kepadatan lembaga pemasyarakatan di wilayah ini.

Fenomena ini diperkuat dengan temuan bahwa pernah terdapat puluhan narapidana di Rutan Kendari yang terindikasi positif menggunakan narkotika, yang menunjukkan bahwa peredaran dan konsumsi narkotika di dalam sistem pemasyarakatan bukan sekadar potensi, tetapi telah menjadi realitas empiris.

Secara kriminologis, indikator ini menunjukkan bahwa Lapas dapat berfungsi sebagai ruang reproduksi jaringan kejahatan apabila sistem pengawasan dan integritas kelembagaan tidak berjalan secara optimal.

Dalam perspektif hukum positif, negara sebenarnya telah memiliki instrumen regulasi yang kuat melalui Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Regulasi ini secara tegas mengatur ancaman pidana berat bagi pelaku peredaran narkotika, termasuk pihak yang membantu atau memfasilitasi distribusi. Secara teoritis, norma hukum tersebut cukup represif untuk menimbulkan efek jera.

Namun, dalam praktik penegakan hukum, persoalan terbesar bukan lagi pada kekuatan norma, melainkan pada konsistensi implementasi. Kritik hukum modern menegaskan bahwa tanpa integritas aparat dan sistem pengawasan yang efektif, hukum hanya akan menjadi teks normatif tanpa daya paksa sosial yang nyata.

Kondisi empiris di Sulawesi Tenggara memperlihatkan bahwa kejahatan narkotika masih menjadi ancaman serius terhadap stabilitas sosial dan keamanan masyarakat. Penegakan hukum memang menunjukkan capaian pengungkapan kasus, namun keberhasilan represif tersebut belum sepenuhnya berbanding lurus dengan keberhasilan pencegahan struktural.

Jika jaringan narkotika masih dapat beroperasi, termasuk dari dalam Lapas, maka terdapat indikasi bahwa sistem pengendalian internal belum berjalan optimal. Dalam konteks kebijakan kriminal modern, kondisi ini menandakan adanya policy gap antara tujuan hukum dan realitas implementasi di lapangan.

Secara sosiologis, terdapat beberapa variabel yang memperkuat potensi peredaran narkotika di dalam Lapas, antara lain:

  • Over kapasitas hunian
  • Keterbatasan teknologi pengawasan
  • Lemahnya sistem deteksi komunikasi ilegal
  • Potensi penyimpangan oknum aparat

Secara empiris, bahkan pernah terungkap pola distribusi narkotika yang diduga melibatkan komunikasi dari dalam lapas menggunakan telepon seluler serta transaksi keuangan melalui sistem perbankan.

Namun, dalam kerangka opini hukum akademik, persoalan utama bukan semata faktor teknis, melainkan persoalan integritas sistem. Ketika integritas institusi melemah, maka kejahatan terorganisir akan selalu menemukan celah.

Paradigma pemasyarakatan modern menekankan keseimbangan antara pendekatan represif dan rehabilitatif. Namun apabila peredaran narkotika masih terjadi di dalam Lapas, maka fungsi rehabilitasi kehilangan makna substantif.

Dalam perspektif hukum progresif, kondisi ini dapat dipandang sebagai kegagalan negara dalam menjamin tujuan pemidanaan, yaitu perlindungan masyarakat dan perbaikan pelaku.

Reformasi sistem pemasyarakatan tidak dapat lagi bersifat administratif semata. Reformasi harus mencakup:

  • Digitalisasi pengawasan Lapas
  • Audit integritas petugas berkala
  • Transparansi sistem pelaporan
  • Pengawasan eksternal independen
  • Penguatan rehabilitasi narapidana

Tanpa langkah tegas, negara berisiko kehilangan legitimasi moral dalam pemberantasan narkotika.

Pemberantasan narkotika di dalam Lapas harus ditempatkan sebagai agenda prioritas nasional. Negara tidak boleh hanya fokus pada penangkapan pelaku di hilir, tetapi juga harus berani membongkar potensi simpul jaringan di dalam institusi negara apabila terbukti ada.

Prinsip equality before the law menuntut bahwa siapa pun yang terlibat dalam peredaran narkotika harus diproses secara hukum tanpa pengecualian.

Masa depan sistem pemasyarakatan Indonesia, termasuk di Sulawesi Tenggara, sangat ditentukan oleh keberanian melakukan reformasi integritas. Tanpa reformasi nyata, paradoks pemasyarakatan akan terus berulang.

Redaksi

Reformasi Integritas Sistem Pemasyarakatan dalam Perspektif Hukum Pidana Modern: Analisis Normatif-Empiris Peredaran Narkotika di Lembaga Pemasyarakatan Sulawesi Tenggara
  • Penulis: Muhammad Arafad

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Polda Sultra Gagalkan Peredaran 6,5 Kg Sabu Jaringan Internasional, Kurir Diringkus di Kendari photo_camera 1

    Polda Sultra Gagalkan Peredaran 6,5 Kg Sabu Jaringan Internasional, Kurir Diringkus di Kendari

    • calendar_month Jum, 5 Des 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 357
    • 0Komentar

    Suara Empat Pilar. Com, KENDARI – Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Tenggara (Sultra) kembali menunjukkan komitmennya dalam memberantas peredaran narkotika. Hal ini ditandai dengan pengungkapan kasus narkoba jenis sabu-sabu jaringan internasional seberat 6,5 kilogram (Kg). Pengungkapan kasus tersebut dipublikasikan dalam Konferensi Pers yang dipimpin langsung oleh Kapolda Sultra, Irjen Pol Didik Agung Widjanarko, S.I.K., M.H., di […]

  • BI Sultra Dukung Harmoni Sultra 2026, Dorong UMKM dan Zona Kuliner Aman di HUT ke-62 Sultra photo_camera 1

    BI Sultra Dukung Harmoni Sultra 2026, Dorong UMKM dan Zona Kuliner Aman di HUT ke-62 Sultra

    • calendar_month Sab, 25 Apr 2026
    • account_circle Olank Zakaria
    • visibility 145
    • 0Komentar

    KENDARI | SUARAEMPATPILAR.com – Dukungan terhadap perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-62 Provinsi Sulawesi Tenggara terus menguat dari berbagai pihak. Kali ini datang dari Bank Indonesia melalui Kepala Kantor Perwakilan BI Sultra, Edwin Permadi, yang menegaskan komitmen penuh dalam menyukseskan rangkaian kegiatan bertajuk Harmoni Sultra 2026. Pernyataan tersebut disampaikan Edwin saat memberikan sambutan dalam pembukaan […]

  • Kunjungi Perumahan Kemensos di Makassar, Gubernur Sultra Siapkan Program 400 Rumah untuk Rakyat Miskin photo_camera 1

    Kunjungi Perumahan Kemensos di Makassar, Gubernur Sultra Siapkan Program 400 Rumah untuk Rakyat Miskin

    • calendar_month Sab, 28 Mar 2026
    • account_circle Suara Empat Pilar
    • visibility 131
    • 0Komentar

    MAKASSAR | SUARAEMPATPILAR.com – Gubernur Sulawesi Tenggara, Andi Sumangerukka, melakukan langkah strategis dalam upaya percepatan pengentasan kemiskinan dengan meninjau langsung kawasan perumahan layak huni di Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar, Jumat (27/3/2026). Kunjungan ini dilakukan usai menghadiri ajang Pertemuan Saudagar Bugis Makassar (PSBM), dan menjadi bagian dari agenda penting untuk mengadopsi konsep pembangunan rumah rakyat yang […]

  • Luka di Jantung Rawa Aopa: Saat Hutan Konservasi “Ditumbal” demi Sawit, Rakyat Kecil Menjerit photo_camera 1

    Luka di Jantung Rawa Aopa: Saat Hutan Konservasi “Ditumbal” demi Sawit, Rakyat Kecil Menjerit

    • calendar_month Sen, 22 Des 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 385
    • 0Komentar

    Suara Empat Pilar. Com, KONAWE SELATAN – Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai (TNRAW) permata hijau sekaligus benteng terakhir biodiversitas Sulawesi Tenggara, kini tengah sekarat. Ratusan hektar hutan yang seharusnya menjadi rumah aman bagi satwa endemik, kini “disulap” secara ugal-ugalan menjadi hamparan kelapa sawit yang haus air. Di balik hijau daun sawit yang mulai tumbuh, tersimpan […]

  • Gubernur Sultra Pimpin Patroli Skala Besar Operasi Lilin Anoa 2025, Dalam Rangka Perayaan Nataru photo_camera 1

    Gubernur Sultra Pimpin Patroli Skala Besar Operasi Lilin Anoa 2025, Dalam Rangka Perayaan Nataru

    • calendar_month Rab, 24 Des 2025
    • account_circle Kontibutor La Ode Zailudin
    • visibility 417
    • 0Komentar

    KENDARI | Suara Empat Pilar. com – Kepolisian Daerah Sulawesi Tenggara (Polda Sultra) bersama Forkopimda menggelar patroli skala besar dalam rangka Operasi Lilin Anoa 2025, Selasa malam (23/12/2025). Kegiatan yang dimulai pukul 19.30 WITA tersebut dipusatkan di Tribun Presisi Polda Sultra dan dilaksanakan sebagai upaya memberikan rasa aman serta menciptakan situasi kamtibmas yang kondusif menjelang […]

  • Delegasi Iran Tiba di Pakistan, Negosiasi Saling Ancam Terancam Gagal Picu Perang Besar photo_camera 1

    Delegasi Iran Tiba di Pakistan, Negosiasi Saling Ancam Terancam Gagal Picu Perang Besar

    • calendar_month Sab, 11 Apr 2026
    • account_circle Suara Empat Pilar
    • visibility 120
    • 0Komentar

    ISLAMABAD | SUARAEMPATPILAR.com – Delegasi tingkat tinggi Iran dilaporkan telah tiba di Pakistan sekitar satu jam lalu, menandai dimulainya babak krusial dalam upaya negosiasi antara Teheran dan Washington di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik kawasan Timur Tengah. Kedatangan delegasi ini terjadi setelah Iran memperoleh dua jaminan penting sebagai prasyarat negosiasi, yakni adanya gencatan senjata di Lebanon […]

expand_less