Pariwisata Berbasis Budaya Jadi Senjata Baru Ekonomi Daerah, Dispar Sultra Siapkan Pemetaan Besar Potensi Wisata Provinsi
- account_circle Olank Zakaria
- calendar_month Sen, 9 Feb 2026
- visibility 280
- comment 0 komentar

KENDARI | SUARAEMPATPILAR.COM – Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara mulai mengarahkan pembangunan sektor pariwisata ke jalur yang lebih strategis dan berkelanjutan. Setelah kunjungan kerja perdana di lapangan dua hari lalu, Sabtu (7/2/26), Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Sulawesi Tenggara, Ridwan Badallah, menegaskan akan memulai pemetaan menyeluruh seluruh potensi wisata dalam kewenangan provinsi sebagai fondasi pengembangan jangka panjang.
Langkah ini dipandang sebagai perubahan pendekatan pembangunan pariwisata dari pola proyek jangka pendek menjadi program berkelanjutan berbasis data, potensi wilayah, dan kekuatan budaya lokal.

Pemetaan potensi wisata ini tidak hanya menargetkan pengembangan destinasi, tetapi juga integrasi sektor pariwisata dengan ekonomi kreatif, UMKM, serta penguatan identitas budaya daerah.
Arah Baru: Pariwisata Tidak Lagi Sekadar Destinasi, Tapi Ekosistem Ekonomi
Pendekatan baru Dinas Pariwisata Sultra menempatkan pariwisata sebagai bagian dari ekosistem ekonomi kerakyatan. Fokus utama diarahkan pada pengembangan pariwisata berbasis budaya yang dinilai memiliki dampak ekonomi langsung ke masyarakat.

Model ini menempatkan masyarakat lokal bukan hanya sebagai penonton, tetapi sebagai pelaku utama melalui usaha kreatif berbasis budaya, seperti kerajinan tradisional, produk olahan lokal, seni pertunjukan, hingga ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal.
Penguatan sektor ini dinilai penting karena sektor pariwisata memiliki efek domino terhadap sektor lain seperti perdagangan, jasa, transportasi, hingga industri rumah tangga.
Sinergi Lintas OPD Jadi Kunci
Dalam rencana implementasi, Dinas Pariwisata Sultra akan memperkuat sinergi lintas instansi, khususnya dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Sulawesi Tenggara.

Kolaborasi ini diarahkan untuk memastikan produk lokal berbasis budaya tidak hanya diproduksi, tetapi juga memiliki standar kualitas, akses pasar, hingga jaringan distribusi yang kuat.
Langkah ini juga dinilai strategis untuk mendorong produk kerajinan lokal naik kelas, dari sekadar produk souvenir menjadi komoditas ekonomi kreatif bernilai tinggi.
Selaras dengan Misi Besar Pembangunan Daerah

Penguatan pariwisata berbasis budaya ini sejalan dengan misi Gubernur Sulawesi Tenggara, Andi Sumangerukka, terhadap arah pembangunan daerah yang menekankan kemandirian ekonomi kerakyatan. Pemerintah provinsi menargetkan penguatan ekonomi masyarakat tidak hanya bertumpu pada sektor tradisional seperti pertanian dan kelautan, tetapi juga melalui sektor pariwisata sebagai penggerak ekonomi baru.
Dengan pendekatan ini, sektor pariwisata diharapkan mampu menjadi simpul pertumbuhan ekonomi daerah yang saling terhubung dengan sektor produksi rakyat.

Program Dirancang Berkelanjutan, Bukan Sekadar Target Waktu
Berbeda dengan pendekatan lama yang sering terikat pada target waktu tertentu, program pemetaan dan pengembangan potensi wisata ini dirancang sebagai program berkelanjutan.
“Artinya, program akan terus diperbarui mengikuti dinamika potensi daerah, kebutuhan pasar wisata, serta perkembangan ekonomi kreatif masyarakat”, kata Ridwan Badallah, pada awak media suaraempatpilar.com, Senin (9/2/26).

Pendekatan berkelanjutan ini dinilai penting agar pembangunan pariwisata tidak berhenti pada pembangunan fisik destinasi, tetapi juga membangun sistem ekonomi wisata yang hidup dan berkembang bersama masyarakat.
Tantangan Besar: Infrastruktur, SDM, dan Konsistensi Kebijakan
Meski memiliki potensi besar, pengembangan pariwisata berbasis budaya tetap menghadapi tantangan klasik, mulai dari infrastruktur, kualitas SDM pariwisata, hingga konsistensi kebijakan lintas sektor.

Namun dengan langkah awal berupa pemetaan potensi secara menyeluruh, pemerintah daerah dinilai mulai menyiapkan fondasi yang lebih kuat untuk pembangunan pariwisata jangka panjang.
Jika berjalan konsisten, strategi ini berpotensi menjadikan Sulawesi Tenggara sebagai salah satu model pengembangan pariwisata budaya berbasis ekonomi kerakyatan di kawasan timur Indonesia.
Laporan: Redaksi
- Penulis: Olank Zakaria

Saat ini belum ada komentar