Warga Terdampak Banjir Kali Wanggu Mulai Terserang Penyakit, Pemprov Sultra Siagakan Layanan
- account_circle Zailudin
- calendar_month Sen, 11 Mei 2026
- visibility 15
- comment 0 komentar

KENDARI | SUARAEMPATPILAR.com — Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) terus memperkuat penanganan dampak banjir di kawasan Kali Wanggu, Kelurahan Lepo-Lepo, Kecamatan Baruga, Kota Kendari. Selain fokus pada evakuasi dan kebutuhan logistik, Pemprov Sultra kini meningkatkan layanan kesehatan bagi warga yang mulai terserang penyakit pascabanjir.
Tim medis dari Dinas Kesehatan Provinsi Sultra disiagakan di lokasi pengungsian dan wilayah terdampak guna memberikan pelayanan kesehatan serta distribusi obat-obatan kepada masyarakat.
Kepala Dinas Kesehatan Sultra, Andi Edy Surachmat, mengungkapkan bahwa hingga saat ini sedikitnya 32 warga terdampak banjir mengalami gangguan kesehatan seperti gatal-gatal dan batuk akibat kondisi lingkungan yang lembab dan sanitasi yang terganggu pascagenangan air.
“Tim medis kami tetap siaga di posko untuk memberikan pelayanan kesehatan dan pengobatan sesuai kebutuhan warga terdampak,” ujarnya.
Selain pelayanan medis, Pemerintah Provinsi Sultra juga memastikan kebutuhan sanitasi masyarakat tetap terpenuhi. Tim tanggap darurat bersama sejumlah OPD terkait mendistribusikan bantuan air bersih menggunakan kendaraan tangki air ke lokasi terdampak banjir.
Data terbaru hingga Minggu, 10 Mei 2026, menunjukkan wilayah terdampak banjir di Kelurahan Lepo-Lepo semakin meluas mencakup RT 03, RT 09, RT 12, RT 13, dan RT 14. Jumlah warga terdampak juga mengalami peningkatan signifikan.
Sebelumnya, pada Sabtu, 9 Mei 2026, tercatat sebanyak 42 Kepala Keluarga (KK) atau 112 jiwa terdampak banjir. Namun sehari kemudian, jumlah tersebut melonjak menjadi 225 KK atau sekitar 685 jiwa.
Sementara itu, lokasi pengungsian sementara dipusatkan di Masjid At-Taubah dengan jumlah pengungsi sekitar 30 KK atau kurang lebih 150 jiwa. Para pengungsi berasal dari RT 13 sebanyak 126 orang dan RT 14 sebanyak 24 orang.
Di antara para pengungsi terdapat kelompok rentan yang membutuhkan perhatian khusus, yakni 2 bayi, 1 balita, serta 7 warga lanjut usia (lansia).
Penanganan banjir dilakukan secara terpadu dengan melibatkan berbagai stakeholder, baik dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, maupun unsur vertikal lainnya.
Beberapa instansi yang terlibat aktif dalam penanganan bencana tersebut di antaranya Sentra Meohai Kementerian Sosial RI, BASARNAS, BPBD Sultra, Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, Dinas Cipta Karya, Bina Konstruksi dan Tata Ruang Provinsi Sultra, Satpol PP Provinsi Sultra, serta Pemerintah Kota Kendari.
Pemerintah Provinsi Sultra melalui Dinas Sosial telah mendirikan tenda pengungsian dan dapur umum, mendistribusikan bantuan logistik, menyediakan tangki air bersih, hingga memenuhi kebutuhan konsumsi warga terdampak.
BPBD Sultra juga menyiapkan perahu karet untuk membantu mobilitas dan proses evakuasi warga di wilayah yang masih tergenang banjir.
Di sisi lain, Brimob Polda Sultra turut memberikan dukungan melalui bantuan alat penjernih air dan perahu karet, sementara Satpol PP Provinsi Sultra membantu pengamanan di kawasan terdampak banjir.
Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara memastikan seluruh layanan penanganan darurat terus dimaksimalkan guna menjamin keselamatan, kesehatan, dan kebutuhan dasar masyarakat selama masa tanggap darurat banjir berlangsung.
Laporan: Redaksi
- Penulis: Zailudin

Saat ini belum ada komentar