Banjir Lumpuhkan Jalur Strategis Kolaka–Bombana, Sawah Siap Panen Ikut Tenggelam
- account_circle Olank Zakaria
- calendar_month Sel, 24 Feb 2026
- visibility 136
- comment 0 komentar

KOLAKA | SUARAEMPATPILAR.com — Banjir kembali menerjang Desa Wolulu, Kecamatan Watubangga, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara, Minggu (22/2/2026), dan langsung melumpuhkan jalur vital poros Kolaka–Bombana. Hujan deras yang mengguyur tanpa henti selama satu hari satu malam membuat badan jalan utama berubah menjadi “sungai dadakan”, memutus arus transportasi serta distribusi barang antarwilayah.
Air menutup hampir seluruh badan jalan. Kendaraan roda dua tak mampu melintas, sementara kendaraan roda empat terpaksa berhenti total. Jalur yang selama ini menjadi urat nadi ekonomi kawasan itu praktis lumpuh. Aktivitas perdagangan tersendat, mobilitas warga terhenti, dan pasokan logistik ikut terganggu.
Permukiman Terendam, Warga Mengungsi Mandiri
Tak hanya jalan raya, banjir juga merendam kawasan permukiman warga. Ketinggian air dilaporkan mencapai lutut orang dewasa dan masuk ke dalam rumah. Perabotan rumah tangga terendam, sementara barang-barang penting diselamatkan seadanya.
Sebagian warga memilih mengungsi ke lokasi yang lebih tinggi, sementara lainnya bertahan di rumah masing-masing sambil menunggu air surut.
“Semoga air cepat surut supaya kami bisa beraktivitas kembali,” ujar seorang warga dengan nada cemas.
Hingga saat ini, warga mengaku masih mengandalkan kemampuan sendiri. Bantuan darurat seperti air bersih, bahan pokok, dan layanan kesehatan disebut belum menjangkau seluruh titik terdampak.
Ratusan Hektar Sawah Tenggelam, Ancaman Gagal Panen
Dampak paling berat dirasakan sektor pertanian. Ratusan hektar sawah dilaporkan terendam, termasuk tanaman padi yang sudah memasuki masa panen. Kondisi ini memicu kekhawatiran gagal panen yang berpotensi menimbulkan kerugian ratusan juta rupiah.
Bagi petani, banjir pada fase menjelang panen merupakan pukulan telak. Selain kehilangan hasil, mereka juga harus menanggung biaya produksi yang sudah terlanjur dikeluarkan selama musim tanam.
Bukan Sekadar Bencana Alam, Warga Soroti Infrastruktur
Warga menilai banjir yang berulang setiap musim hujan bukan semata faktor alam. Mereka menyoroti persoalan struktural yang dianggap belum pernah ditangani secara tuntas, mulai dari sistem drainase yang tidak memadai, saluran air yang tidak dinormalisasi, hingga minimnya langkah antisipasi saat curah hujan tinggi.
Menurut warga, pola kejadian selalu sama: hujan deras turun, banjir datang, warga terdampak, lalu janji perbaikan kembali menguap tanpa realisasi jelas.
Jalur Vital Lumpuh Tiap Musim Hujan
Bagi masyarakat Wolulu, banjir bukan lagi peristiwa luar biasa, melainkan siklus tahunan yang terus berulang. Lumpuhnya jalur poros Kolaka–Bombana setiap hujan deras menjadi simbol rapuhnya infrastruktur di kawasan tersebut.
Warga berharap pemerintah tidak hanya hadir saat situasi menjadi sorotan publik, tetapi benar-benar melakukan langkah konkret dan berkelanjutan, seperti:
- Perbaikan sistem drainase terpadu
- Normalisasi sungai dan saluran air
- Penataan ruang yang mempertimbangkan risiko banjir
- Sistem peringatan dini dan mitigasi bencana
Sebab bagi mereka, banjir bukan sekadar genangan air. Ia adalah krisis yang memutus akses, melumpuhkan ekonomi, merusak hasil panen, dan menggerus rasa aman masyarakat setiap kali musim hujan datang.
Laporan: Redaksi
- Penulis: Olank Zakaria

Saat ini belum ada komentar