Megawati Kirim Surat ke Pemimpin Baru Iran Mojtaba Khamenei: “Saya Gembira Iran Kembali Punya Pemimpin”
- account_circle Olank Zakaria
- calendar_month Rab, 11 Mar 2026
- visibility 82
- comment 0 komentar

JAKARTA | SUARAEMPATPILAR.com – Presiden ke-5 RI sekaligus Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, mengirimkan ucapan selamat kepada Mojtaba Khamenei yang baru ditunjuk sebagai Pemimpin Tertinggi Iran. Ucapan tersebut disampaikan melalui surat yang diserahkan langsung kepada Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, dalam pertemuan di kediaman Megawati, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (10/3/2026) .
“Ini adalah surat kedua, saya merasa gembira bahwa karena Iran sekarang sudah punya pemimpin kembali,” kata Megawati saat menyodorkan surat tersebut kepada Dubes Boroujerdi .
Pertemuan yang berlangsung lebih dari satu jam itu berlangsung hangat. Megawati tampak didampingi jajaran petinggi PDIP, yakni Sekretaris Jenderal Hasto Kristiyanto, serta Ketua DPP Ahmad Basarah, Yasonna Laoly, Eriko Sotarduga, dan Kepala Badan Riset dan Analisis Kebijakan PDIP Andi Widjajanto .
Bukti Persahabatan Sejak 2004
Dalam kesempatan tersebut, Megawati tidak hanya menyerahkan surat ucapan selamat. Ia juga memberikan sebuah foto bersejarah saat dirinya melakukan kunjungan resmi ke Teheran dan bertemu langsung dengan almarhum Ayatollah Ali Khamenei pada tahun 2004 silam .
“Ini bukti saya punya hubungan persahabatan dengan almarhum Ayatollah Ali Khamenei,” ujar Megawati kepada Dubes Boroujerdi .
Foto tersebut menjadi simbol eratnya hubungan personal Megawati dengan para pemimpin Iran, jauh sebelum gejolak politik Timur Tengah memanas seperti saat ini. Sebagai bentuk kehangatan diplomatik, Megawati juga memberikan cenderamata berupa kemeja tenun ikat khas Bali kepada Dubes Boroujerdi .
Duka Mendalam di Surat Pertama
Sebelum mengirimkan ucapan selamat, Megawati pada 3 Maret 2026 juga telah mengirimkan surat duka cita yang mendalam kepada Pemerintah Republik Islam Iran. Surat pertama itu ditujukan untuk mengenang wafatnya Ayatollah Ali Khamenei yang tewas dalam serangan Amerika Serikat dan Israel ke Teheran pada 28 Februari 2026 .
Serangan tersebut mengejutkan dunia. Televisi pemerintah Iran mengonfirmasi bahwa Pemimpin Tertinggi yang telah memimpin Iran sejak 1989 itu gugur di kantornya di pusat Teheran ketika AS dan Israel melancarkan gelombang serangan pertama . Pemerintah Iran kemudian menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari .
Mojtaba Khamenei: Penerus di Tengah Badai
Mojtaba Khamenei, putra kedua almarhum Ayatollah Ali Khamenei, resmi dilantik sebagai Pemimpin Tertinggi Iran yang baru oleh Majelis Ahli (Majelis Pakar) Iran, sebuah badan yang terdiri dari 88 anggota dan bertanggung jawab memilih otoritas politik dan agama tertinggi di negara itu .
Pria berusia 56 tahun ini bukanlah sosok asing di pentas politik Iran, meskipun selama ini jarang tampil di publik. Lahir di Kota Mashhad pada 8 September 1969, Mojtaba menghabiskan sebagian besar kariernya sebagai pengajar di akademi keagamaan Kota Qom, pusat pembelajaran teologi Syiah terkemuka di Iran .
Menurut media internasional, Mojtaba memiliki hubungan erat dengan Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) dan Pasukan Perlawanan Basij, meskipun tidak pernah memegang jabatan resmi pemerintahan . Pada 2019, Amerika Serikat bahkan pernah menjatuhkan sanksi kepadanya berdasarkan Perintah Eksekutif 13867, dengan tuduhan bahwa ia telah mewakili pemimpin tertinggi dalam kapasitas resmi dan bekerja sama erat dengan komandan Pasukan Quds .
Presiden AS Donald Trump, ketika ditanya mengenai kemungkinan Mojtaba menjadi pemimpin baru Iran, menolak mentah-mentah. “Putra Khamenei tidak dapat diterima oleh saya. Kami menginginkan seseorang yang akan membawa harmoni dan perdamaian ke Iran,” ujar Trump dalam wawancara dengan Axios pekan lalu .
Mojtaba kini mewarisi kepemimpinan di saat Iran berada dalam fase konflik regional yang intens. Ia selamat dari serangan yang menewaskan ayahnya, namun harus kehilangan ibu, saudara perempuan, abang ipar, anak saudara, dan istrinya, Zahra Haddad-Adel, dalam serangan yang sama .
Makna di Balik Surat Megawati
Langkah Megawati mengirimkan dua surat beruntun, duka cita dan ucapan selamat dalam waktu berdekatan menunjukkan perhatian serius tokoh nasional Indonesia terhadap dinamika politik Timur Tengah pascakonflik. Hubungan diplomatik Indonesia-Iran sendiri telah berlangsung lama, dan Megawati menjadi salah satu figur yang memiliki kedekatan personal dengan para pemimpin Iran .
Di tengah ketegangan global yang masih memanas pasca serangan balasan Iran-Israel, pesan-pesan diplomatik seperti ini menjadi penting untuk menjaga komunikasi antarnegara. “Perjalanan yang aman untuk surat ini,” ucap Megawati sembari tersenyum saat menyerahkan surat kepada Dubes Boroujerdi, berharap pesan persahabatan itu sampai ke tangan pemimpin baru Iran dengan selamat.
Laporan: Redaksi
- Penulis: Olank Zakaria

Saat ini belum ada komentar