Eks MTQ Kendari Jadi Pusat UMKM di HUT Sultra 62, Dampak Nyata atau Sekadar Pencitraan?
- account_circle Olank Zakaria
- calendar_month Sab, 25 Apr 2026
- visibility 35
- comment 0 komentar

KENDARI | SUARAEMPATPILAR.com – Kawasan eks MTQ Kendari yang dulu identik dengan titik nongkrong kini berubah drastis menjadi simpul ekonomi dadakan. Di balik kemeriahan HUT ke-62 Sulawesi Tenggara, geliat ratusan pelaku UMKM menjadikan lokasi ini sebagai “mesin uang” baru. Namun di saat yang sama, publik mulai menguji: apakah ini dampak riil kebijakan atau sekadar panggung pencitraan tahunan?
Di bawah kepemimpinan Andi Sumangerukka dan Wakil Gubernur Hugua, arah perayaan HUT Sultra tahun ini memang terlihat berbeda. Bukan hanya seremoni, tetapi dirancang menjadi katalis ekonomi berbasis kerakyatan. Tenant-tenant UMKM dipadati pengunjung, transaksi terjadi nyaris tanpa jeda, dan perputaran uang meningkat signifikan.
Sejumlah pelaku usaha mengaku omzet mereka melonjak tajam selama event berlangsung. Produk kuliner lokal, kerajinan, hingga usaha kreatif mendapat panggung yang sebelumnya sulit diakses. Bagi sebagian pelaku UMKM, ini bukan sekadar event, melainkan momentum “naik kelas”.
Namun pertanyaan krusial muncul: apakah geliat ini akan bertahan setelah panggung HUT usai?
Secara politik-ekonomi, langkah ini memperlihatkan strategi pemerintah daerah dalam membangun legitimasi melalui dampak langsung kepada masyarakat. Visi pembangunan yang diusung ekonomi inklusif, penguatan UMKM, dan pemerataan kesejahteraan diterjemahkan dalam bentuk konkret di lapangan. Eks MTQ dijadikan etalase keberhasilan, sekaligus alat ukur kepercayaan publik.

Gubernur Andi Sumangerukka berulang kali menegaskan bahwa UMKM adalah fondasi ekonomi daerah. Ia mendorong agar ruang-ruang publik tidak hanya menjadi tempat konsumsi, tetapi juga produksi ekonomi rakyat. Pendekatan ini memperlihatkan keberpihakan yang jelas terhadap sektor kecil, di tengah dominasi proyek-proyek besar dan industri strategis.
Di sisi lain, keberhasilan ini tidak berdiri sendiri. Peran panitia HUT Sultra ke-62 yang dipimpin M. Ridwan Badallah menjadi faktor kunci. Konsep penataan kawasan, kurasi pelaku UMKM, hingga manajemen arus pengunjung menunjukkan perencanaan yang tidak sekadar seremonial.
Ridwan Badallah dinilai berhasil menggeser paradigma event tahunan dari sekadar perayaan menjadi instrumen ekonomi. Eks MTQ bukan hanya ramai, tetapi produktif.
Meski demikian, tantangan berikutnya jauh lebih besar. Tanpa keberlanjutan program, kawasan ini berpotensi kembali menjadi ruang pasif setelah euforia mereda. Inilah titik di mana publik mulai membedakan antara dampak jangka pendek dan kebijakan yang benar-benar berkelanjutan.
HUT Sultra ke-62 pada akhirnya bukan hanya soal perayaan usia daerah, tetapi juga panggung pembuktian arah kepemimpinan. Jika transformasi eks MTQ ini mampu dijaga konsistensinya, maka pemerintah berhasil membangun fondasi ekonomi rakyat. Jika tidak, maka ia hanya akan dikenang sebagai momen ramai yang sesaat.
Di tengah dinamika tersebut, satu hal yang tak terbantahkan: untuk saat ini, eks MTQ telah berubah. Dari tempat nongkrong menjadi ruang perputaran uang. Dari sekadar keramaian menjadi simbol harapan ekonomi baru.
Laporan: Redaksi
- Penulis: Olank Zakaria

Saat ini belum ada komentar