Sekda Sultra: Menanamkan Empati Global Sejak Dini Melalui Kisah Palestina
- account_circle Olank Zakaria
- calendar_month Kam, 5 Mar 2026
- visibility 122
- comment 0 komentar

KENDARI | SUARAEMPATPILAR.com – Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) menekankan pentingnya penguatan pendidikan karakter bagi generasi muda melalui wawasan kemanusiaan global. Hal ini ditegaskan oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Sultra, Drs. H. Asrun Lio, M.Hum., Ph.D., saat membuka kegiatan Safari Kisah Palestina yang dirangkaikan dengan Training for Trainer (TFT) bagi guru TK dan SD se-Kota Kendari, Rabu (4/3/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Kota Kendari ini merupakan inisiasi dari Koordinator Wilayah Komite Nasional untuk Rakyat Palestina (KNRP) Sultra. Acara tersebut dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, termasuk Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sultra dan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kendari.
Menjawab Krisis Empati di Era Teknologi
Dalam pidato pembukaannya, Asrun Lio menyoroti kontradiksi antara kemajuan teknologi dan kondisi moralitas dunia saat ini. Menurutnya, meski teknologi berkembang pesat, dunia justru sedang menghadapi ancaman krisis empati.
“Pendidikan harus menjadi benteng untuk memastikan anak-anak kita tumbuh dengan kepedulian dan rasa kemanusiaan yang kuat,” ujar Asrun Lio di hadapan ratusan guru peserta TFT.
Ia menambahkan bahwa usia TK dan SD adalah golden age atau masa emas pembentukan karakter. Oleh karena itu, nilai-nilai solidaritas dan kepedulian sosial harus ditanamkan secara konsisten melalui pendekatan pembelajaran yang kreatif dan tepat sasaran.
Palestina: Panggilan Konstitusi dan Kemanusiaan
Lebih lanjut, Asrun menjelaskan bahwa memberikan pemahaman mengenai kondisi rakyat Palestina kepada siswa bukan sekadar isu agama, melainkan perwujudan dari amanat konstitusi Indonesia.
“Dalam Pembukaan UUD 1945 ditegaskan bahwa penjajahan di atas dunia harus dihapuskan. Membantu Palestina adalah panggilan kemanusiaan dan kewajiban kita sebagai warga negara yang menjunjung tinggi keadilan,” tegasnya.
Melalui agenda TFT ini, para pendidik diharapkan tidak hanya mengajar secara tekstual, tetapi mampu menjadi narator yang inspiratif. Sekda berharap para guru dapat menyampaikan kisah-kisah kemanusiaan dengan menonjolkan nilai:
- Ketangguhan (Resilience)
- Harapan (Hope)
- Semangat Perjuangan
“Aspek terpenting adalah menjadikan sekolah sebagai lumbung empati dan pusat tumbuhnya gerakan kemanusiaan,” tambahnya.
Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah strategis untuk mencetak generasi Sulawesi Tenggara yang unggul secara intelektual, memiliki karakter kuat, serta memiliki wawasan global yang luas dalam merespons isu-isu kemanusiaan di masa depan.
Laporan: Redaksi
- Penulis: Olank Zakaria

Saat ini belum ada komentar