Breaking News
light_mode
Trending Tags

Gelar Adat Kesultanan Buton untuk Menag RI, Simbol Penjaga Nilai Agama

  • account_circle Kontributor Olank Zakaria
  • calendar_month Jum, 9 Jan 2026
  • comment 0 komentar

BAUBAU | SUARAEMPATPILAR.COM – Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA, menerima gelar kehormatan adat “Mia Ogena I Sara Agama” dari Kesultanan Buton dalam sebuah prosesi adat yang khidmat dan sarat makna budaya, yang digelar di Baruga Keraton Kesultanan Buton, Kota Baubau, pada Kamis (8/1/2026).

Penganugerahan gelar kehormatan tersebut menjadi bentuk penghormatan tertinggi Kesultanan Buton kepada tokoh nasional yang dinilai memiliki dedikasi tinggi dalam menjaga, menguatkan, dan memuliakan nilai-nilai agama sebagai fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Prosesi adat berlangsung dengan penuh kekhidmatan, dihadiri oleh jajaran tokoh adat Kesultanan Buton, unsur pemerintah daerah, serta sejumlah tokoh masyarakat dan agama. Tradisi adat yang ditampilkan mencerminkan kekayaan budaya Buton yang tetap terjaga hingga kini sebagai bagian dari identitas masyarakat Sulawesi Tenggara.

Gubernur Sulawesi Tenggara, Mayjen TNI (Purn) Andi Sumangerukka, yang hadir langsung menyaksikan prosesi tersebut, menyampaikan ucapan selamat dan apresiasi atas penganugerahan gelar adat kepada Menteri Agama RI.

“Atas nama Pemerintah Daerah dan masyarakat Sulawesi Tenggara, kami mengucapkan selamat kepada Bapak Menteri Agama atas gelar kehormatan adat Kesultanan Buton yang diterima hari ini. Semoga gelar ini semakin memperkuat langkah beliau dalam mengemban amanah dan menjadi inspirasi bagi seluruh elemen bangsa,” ujar Gubernur.

Gubernur Andi Sumangerukka menjelaskan bahwa dalam falsafah Kesultanan Buton, gelar Mia Ogena I Sara Agama memiliki makna yang sangat mendalam. Gelar ini melambangkan pribadi utama yang menjadi penopang, penjaga, dan penguat sendi-sendi agama dalam tatanan kehidupan masyarakat dan pemerintahan.

Menurutnya, penganugerahan gelar tersebut kepada Prof. KH. Nasaruddin Umar merupakan keputusan yang sangat tepat dan layak, mengingat kiprah dan konsistensinya dalam menjaga kemuliaan agama sebagai ruh kehidupan sosial, sekaligus memperkuat persatuan dan harmoni di tengah keberagaman bangsa Indonesia.

“Beliau adalah sosok yang senantiasa menempatkan agama sebagai kekuatan pemersatu, bukan pemecah. Ini sejalan dengan nilai-nilai luhur Kesultanan Buton yang menjunjung tinggi keseimbangan antara adat, agama, dan pemerintahan,” jelas Gubernur.

Pada kesempatan yang sama, Gubernur Sulawesi Tenggara juga menyampaikan apresiasi kepada Lembaga Adat dan Budaya Kesultanan Buton atas komitmennya dalam melestarikan adat dan budaya daerah, serta perannya sebagai mitra strategis pemerintah dalam menjaga nilai-nilai kearifan lokal.

Ia menilai, eksistensi lembaga adat memiliki peran penting dalam mendukung pembangunan daerah yang berkarakter, berakar pada budaya, dan tetap relevan dengan dinamika zaman.

“Mari kita terus bersinergi dalam mewujudkan masyarakat yang bermartabat dan berbudaya, menuju Sulawesi Tenggara yang maju, aman, sejahtera, dan religius,” ajak Gubernur.

Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara berharap, momentum penganugerahan gelar kehormatan adat ini tidak hanya menjadi simbol penghormatan, tetapi juga memperkuat kolaborasi antara negara, tokoh agama, dan lembaga adat dalam menjaga persatuan nasional serta memperkokoh jati diri budaya bangsa di tengah tantangan global.

Gelar Adat Kesultanan Buton untuk Menag RI, Simbol Penjaga Nilai Agama
  • Penulis: Kontributor Olank Zakaria

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less